Proses Pembuatan Lurik di Yogyakarta
Sampai sekarang pun, lurik dijual dengan harga relatif jauh lebih murah jika dibandingkan dengan batik. Salah satu fungsi kain lurik yang paling sering kita lihat di Yogyakarta adalah sebagai bahan untuk surjan, pakaian atasan yang sering dipakai oleh abdi dalem keraton.
Di tengah kecintaan akan batik, pesona lurik seakan tenggelam. Padahal, lurik punya kisah, sejarah, dan filosofi yang tak kalah panjang dengan batik.
Tak seperti kampung-kampung batik, proses produksi lurik juga belum digarap sebagai tujuan wisata. Mungkin karena dalam proses pembuatannya, lurik tergolong hasil dari produksi massal alat tenun.
Setelah kita mengetahui soal batik dan proses pembuatannya, kini giliran untuk mengenal lurik serta proses penenunan di belakangnya.
Jika belum sempat melihat langsung ke Krapyak Wetan, Sewon, Bantul, mungkin bisa lewat foto-foto di bawah ini dulu.
Di pabrik industri tenun “Kurnia Lurik di Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, kita bisa melihat bagaimana para perajin masih menggunakan alat pemintal benang yang sederhana.
Menurut ANTARA, industri tenun yang berdiri sejak tahun 1962 itu dalam sebulan mampu memproduksi sekitar 3500-4000 meter tenun lurik. Kain yang mereka hasilkan lalu dipasarkan ke Bandung dan Jakarta dengan harga Rp35 ribu-Rp40 ribu per meter tergantung motif.

Perajin
melakukan pemintalan benang saat proses pembuatan tenun lurik di
industri tenun “Kurnia Lurik” Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon,
Bantul, Yogyakarta, kamis (9/4). Industri tenun yang berdiri sejak tahun
1962 itu dalam sebulan mampu memproduksi sekitar 3500 – 4000 meter
tenun lurik yang dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia seperti
Bandung maupun Jakarta dan dijual dengan harga Rp, 35 ribu hingga Rp. 40
ribu per meter tergantung motif. ANTARA FOTO/Andreas Fitri
Atmoko/Rei/nz/15.

- Perajin melakukan pemintalan benang saat proses pembuatan tenun lurik di industri tenun”Kurnia Lurik” Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, kamis (9/4). Industri tenun yang berdiri sejak tahun 1962 itu dalam sebulan mampu memproduksi sekitar 3500 – 4000 meter tenun lurik yang dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia seperti Bandung maupun Jakarta dan dijual dengan harga Rp, 35 ribu hingga Rp. 40 ribu per meter tergantung motif. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/Rei/nz/15.

Pekerja
menggulung benang sebelum proses penenunan sarung di industri rumahan
Jalan Dr. Setiabudi, Gresik, Jawa Timur, Selasa (18/3). Sarung tenun
ikat tersebut di ekspor ke Arab Saudi dijual dengan harga Rp. 350 ribu –
Rp.1,4 juta per potong. ANTARA FOTO/Sahlan Kurnawan/Rei/mes/15.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar